Jangka Waktu Serah Terima Rumah Molor

Pertanyaan : Saya ingin membeli rumah dan mendapatkan penawaran developer yang dituangkan dalam PPJB. Developer menjanjikan rumah akan jadi dalam 6 bulan yang dituangkan dalam PPJB. Saya ingin menanyakan, apakah benar kalo denda keterlambatan serah terima rumah dan bangunan adalah 1 ‰ (satu per mil) per hari dan dapat diatur ketentuan maksimal denda sebesar 5% dari total pekerjaan yang belum terselesaikan? Karena pandangan saya, hal ini tidak adil apabila waktu serah terimanya telat dengan waktu yang sangat lama.

Solusi : Pada umumnya format perjanjian yang telah disiapkan oleh developer dibuat secara sepihak dalam bentuk standar atau yang dikenal dengan klausula baku, sehingga mengakibatkan pembeli tidak memiliki posisi tawar selain menerima atau menolak perjanjian tersebut. Padahal, kebebasan berkontrak hanya dapat mencapai keadilan, jika para pihak memiliki bargaining power yang seimbang. Apabila PPJB mengatur hal demikian, dimana besarnya ketentuan denda keterlambatan dalam PPJB sebesar 1 ‰ (satu per mil) per hari dari total pekerjaan yang belum terselesaikan dengan denda maksimal sebesar 5% dari total pekerjaan yang belum terselesaikan.

Hal ini tentu dapat bertentangan dengan Pedoman PPJB yang diatur dalam Keputusan Menteri Negara Perumahan Rakyat No.09/KPTS/M/1995 Tentang Pedoman Pengikatan Jual Beli Rumah (”Kepmen Perumahan Rakyat No.09”). Klausula yang terdapat PPJB antara developer dan pembeli sepatutnya menyesuaikan sebagaimana pada Sub II Lampiran 1 angka 5 Kepmen Perumahan Rakyat No.09 yang dikutip sebagai berikut: ”Apabila Penjual lalai untuk menyerahkan Tanah dan Bangunan Rumah tepat waktu seperti yang diperjanjikan kepada Pembeli, diwajibkan membayar denda keterlambatan penyerahan tersebut sebesar 1‰ (dua per seribu) dari jumlah total harga Tanah dan Bangunan Rumah untuk setiap hari keterlambatannya.

Berdasarkan ketentuan pada peraturan perundang-undangan di atas, denda keterlambatan serah terima rumah seharusnya sebesar 1‰ dari jumlah total harga tanah dan bangunan rumah untuk setiap hari keterlambatan. Sedangkan dalam kasus Bapak, developer memberikan denda keterlambatan 1‰ per hari dari total pekerjaan yang belum terselesaikan. Dilihat dari uraian tersebut, salah satu klausula yang tidak sejalan dengan pedoman PPJB, yaitu perhitungan denda keterlambatan dihitung dari total pekerjaan yang belum terselesaikan.

Padahal, seharusnya perhitungan denda keterlambatan dihitung dari jumlah total harga Tanah dan Bangunan Rumah. Lebih lanjut, klausula maksimal denda yang harus dibayarkan penjual akibat keterlambatan sebagaimana PPJB antara developer dengan Bapak telah menghilangkan maksud dari Kepmen Perumahan Rakyat No.09 untuk memberi tekanan kepada developer menyerahkan tanah dan bangunan rumah tepat waktu.

Jika secara musyawarah tidak dapat dilakukan, maka Bapak dapat menempuh secara hukum dengan mengajukan gugatan wanprestasi kepada Developer tersebut yang isinya permintaan ganti kerugian dan memerintahkan untuk melaksanakan serah terima bangunan. Tindakan hukum yang lain adalah Bapak mengajukan permohonan kepailitan kepada Developer tersebut. Demikian penjelasan ini saya sampaikan, semoga bermanfaat dan dapat menjadi bahan pertimbangan Bapak dalam melakukan tindakan lebih lanjut.

Dalam membangun rumah memang diperlukan ketelitian dan kewaspadaan. Namun hal penting lainnya setelah rumah sudah jadi tentunya tak ketinggalan sebuah genset untuk sumber listrik alternatif. Harga genset untuk rumah tangga bisa dibeli dengan harga murah jika membelinya pada toko distributor jual genset silent 500 Kva di Jogja. Salah satu distributor resmi yang ada di Jogja adalah PT. Rajawali Indo yang memberikan harga diskon pada setiap pembelian unit baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *